Trail Adventure Menuju Cisadon – Rawa Gede

21 05 2011

Please enter this link (jefri’s blog) then click like to help my friend blog story for a chance to win adventure blogging contest

Kisah perjalanan selama 2 hari “the three idiots” menyusuri seruna jalur offroad dari Pondok Pemburu – Cisadon – Rawa Gede. “Three Idiot” karena idenya dadakan dan tidak ada satupun yang tahu tracknya. dari Cisadon menuju Rawa Gede

Beberapa minggu lalu, tepatnya tanggal 6-7 Mei 2011 saya dan dua “maho” penggemar motor trail berkesempatan menjajal serunya garuk tanah di daerah Gunung Pancar – Sentul Bogor. Ridernya kali ini hanya terdiri dari saya, Reza “Japoo” dan Akbar. Semuanya berawal dari sebuah ”beer talk” (bukan pillow talk ya…) sewaktu kami bertiga nongkrong di 7 Eleven (mau ke beer garden ga ada duittt haha). As usual semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan…setelah menghabiskan beberapa krat beer (hahaha drunken master) dan ngobrol dari utara ke selatan timur ke barat akhirnya tiba kecetus ide untuk pergi menjajal track Cisadon.

Antusiasme untuk pergi kesana muncul setelah Japoo dengan “lebaynya” “ngomporin” saya dan Akbar soal menantangnya track dari Cisadon menuju Rawa Gede. Japoo sebelumnya pernah mencoba beradventure ria melewati track Cisadon menuju ke Rawa Gede namun baru diawal-awal track memutuskan untuk kembali turun karena waktu yang tidak memungkin.

Ide tercetus di 7 Eleven sekitar jam 1 pagi dan setelah musyawarah panjang kami memutuskan untuk berangkat sekitar jam 12 siang, namun lagi-lagi karena “jam karetnya” orang Indonesia kami bertiga baru berangkat dari Taman Mini sebagai rendevouz point  jam 5 sore. Initial idea was supposed to spend a night in the jungle, that’s why saya dari rumah sudah siap dengan membawa perlengkapan seperti tenda, kompor, dan “machete” in case kita butuh untuk buka jalur.

Karena sudah terlalu sore, akhirnya kami memutuskan akan bermalam di pondok pemburu, lumayan lah saya jadinya tidak perlu bawa tenda. Satu hal yang juga beda dalam adventure kali ini adalah ride perdana saya menggunakan motor baru KTM EXC200. Namun justru hal ini yang bikin semuanya tambah seru. Hanya tiga rider, tidak satupun dari kami yang tau track, lupa bawa JPS, dan juga karakter motor yang belum saya pahami haha.

Perjalanan dari Taman Mini menuju daerah sentul bisa dibilang sudah cukup seru, Japoo membawa kami melewati jalan “kampung”, memotong jalur dari satu kampung ke kampung lain, keluar masuk sawah warga, dan menyusuri pinggir tol Jakarta- Sentul (bisa tahu aja lu Po jalan kyk gini..hebat). Track tersebut pun kami hajar dengan full speed dan setelah 30 menit akhirnya kami keluar di daerah Citeurep dan tiba-tiba motor saya mati begitu saja…bleg bleg bleg..Ternyata kehabisan bensin…wuahahah baru jalan dari Taman Mini saja saya sudah kehabisan bensin. Maklum KTM ECX200 yang merupakan motor 2stroke terkenal sebagai motor dengan torsi besar namun berbanding lurus dengan konsumsi bahan bakarnya. Karena ini baru pertama kali membawa motor tersebut ke medan offroad, biar aman Akbar menyarankan untuk membawa bensin cadangan which is baru pertama kali saya membawa bensin cadangan sampe 3 botol Aqua ukuran 1.5 liter, jadi totalnya saya isi bensin sebanyak 16.5 liter (tekorrr pake pertamax gan). Sebelum melanjutkan perjalanan kami mampir untuk makan malam di rumah makan Sate PSK di daerah bukit sentul. Ternyata itu salah satu tongseng dan sate kambing yang paling enak, lumayan lebih enank daripada Sate Jono Pejompongan (loh kok jadi wisata kuliner). Tidak lupa kami pun membungkus Tongseng kambing sebagai bekal makan malam di perjalanan.

Mampir untuk makan malam di Sate PSK

Track menuju pondok pemburu dapat ditempuh melalui komplek Bukit Sentul all the way up sampe bertemu jalan menanjak yang mengarah ke daerah Gunung Pancar. Tiba-tiba saja ketika kami sedang menyusuri jalan aspal menuju kearah pondok pemburu , Japoo membanting stir ke arah jalan setapak, karena track tanah keramik dan ban motor yang belum sempet dikempeskan maka tanjakan pertama ini menjadi PR buat KTM EXC200. Setelah kempesin ban sampai 3 kali akhirnya ban belakang saya mendapat sedikit traksi ke tanah keramik tersebut walapun tidak selincah Akbar ataupun Japoo. Lucunya tanjakan keramik tersebut sebenarnya hanya memotong jalur aspal tetapi di tanjakan tersebut kami memakan waktu kurang lebih hampir 30 menit hahaha. Karena waktu sudah menunjukan jam 21.30 maka berdiskusi sejenak untuk memutuskan akan bermalam naik sampai ke Pondok pemburu atau turun ke komplek Bukit Sentul dan bermalam di rumah salah satu temannya Akbar. Beruntungnya malam itu tidak hujan dan terang bulan, kami pun sempat terpana dengan pemandangan yang begitu indanya…dari atas bukit ini kami bisa melihat Namun apa serunya adventure kalo tidak bersusah ria bukan? Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba meneruskan perjalanan menuju Pondok Pemburu yang ternyata lebih cepat dari perkiraan. Hanya kurang lebih 30 menit kami sudah tiba di Pondok Pemburu.

Lucunya pas sampai disana, kami teriak permisi, asalamuaikum, teh nuhun…. Ternyata pas keluar ibu-ibu bernama Doris dengan karakter orang batak (gw tau soalnya gw juga orang batak hehe). Pondok pemburu yang terletak di tengah-tengah perkebunan singkat kata memang digunakan sebagai pondokan ketika para pemburu, biasanya berburu celeng atau babi hutan, datang dari Jakarta untuk memuaskan hobby mereka akan darah hewan hiiiii….

Tak jauh dari pondok pemburu juga terdapat sebuah gereja yang biasa dikunjungi para jemaah dari Jakarta. Setelah ngobrol dengan Ibu Doris akhirnya beliau menawarkan kami untuk beristiharat di pondokan yang terletak di belakang pondokan utama. Pondok yang berdiri sebgaia rumah panggung tersebut terlihat baru saja selesai dibangun dimana kami bisa mencium kuatnya aroma kayu yang digunakan sebagai untuk menopang keselurahan pondok tersebut.

Seperti biasa, hal pertama yang kami lakukan langsung membuka semua “peralatan lenong” yang sudah basah dan mulai operasi bersih-bersih. Ternyata tidak percuma saya bawa kompor trangia, malam-malam kami pun menikmati secangkir kopi hangat ditengah sunyinya malam. Kami pun menghabiskan malam dengan santai, sambil menikmati beer dingin, secuil roti sobek, dan juga seisepan rokok ditengah malam yang dingin, sunyi , dan damai jauh dari hingar binger bisingnya kota Jakarta, well at least tidak sepenuhnya sunyi sih. Malam itu dihiasi symphony snoring atau “orokan” kami bertiga haha. Jam 5 pagi pun kami semua terbangun oleh dinginnya hawa udara pagi yang menyelemuti dari kaki sampai kepala. Tapi badan ini rasanya masih too lazy to get up tapi dinginnya seperti memaksa kami untuk segera beranjak keluar, setidak buat saya dan Japoo, kalo Akbar sih dia tetap tertidur pulas dengan balutan sleeping bag deuternya.

Ternyata paginya kami baru sadar kalo masih punya satu bungkus tongseng yang belum tersentuh. Baru kali itu saya makan sarapan pagi dengan Tongseng kambing haha…Setelah berpamitan kepada Bu Doris dan suami, sekitar  jam 10 pagi kami pun melanjutkan perjalanan dengan check point kedua yaitu desa Cisadon.

Jemuran dadakan di Pondok Pemburu

Villa kami di Pondok Pemburu..ajibbb

Sarapan dengan tongseng

Bir bintang rasa sariwangi!

Sesaat meninggalkan Pondok Pemburu

Perjalanan ke desa Cisadon didominasi dengan single track, sesekali kami pun sempat melewati sungai dan track dengan awesome view.  Tepat pukul 12 siang akhirnya kami keluar dari track hutan dan menuruni single track ke lembah Cisadon. Saya sempat terkejut ketika sampai di desa Cisadon. Ketika mendengar nama desa Cisadon, gambaran saya seperti layaknya sebuah desa di daerah terpencil pegunungan, ada setidaknya belasan atau puluhan rumah. Tapi ketika kami tiba ternyata hanya ada satu rumah ditengah-tengah lembahan Cisadon. Ketika kami ngobrol dengan pemilik rumah tersebut, beliau menjelaskan di Cisadon kurang lebih hanya ada 5-8 rumah dan letaknya cukup berjauhan.

Satu-satunya akses untuk menuju “keramaian atau peradaban” harus melewati single track menuju Pondok pemburu atau ke Rawa gede. Dengan bekal mie instan yang kami bawa, pemilik rumah pun berkenan untuk menyiapkannya sebagai makan siang. Saya sempat takjub dengan kontrasnya anak-anak yang bermain di lembah Cisadon ini. Mereka menghabiskan waktu hanya dengan memanjat pohon dan bermain air di sungai, sangat berbeda dengan anak-anak seumuran mereka yang tingal di perkotaan.

Track awal setelah meninggalkan Pondok Pemburu

Ajibbb tracknya…

Awal-awal sudah disuguhi jalur air…

Istirahat dulu Bang…capeeee

Resting point di desa Cisadon

Jam 1 siang kami melanjutkan perjalanan meninggalkan desa Cisadon menuju Rawa Gede. Dari Cisadon menuju Rawa gede normalnya biasa ditempuh dalam waktu 2 jam (berjalan kaki…beda halnya kalo bawa motor). Track awal meninggalkan Cisadon, kami sudah disuguhi dengan “tanjakan Naga”. Sesuai nama yang kami berikan, tanjakan tersebut meliuk-liuk bagaikan Naga dengan karakter tanah semi keramik.

Sesaat berhasil melewati satu tanjakan ternyata masih ada lagi tanjakan ke kiri lalu ke kanan dan terus sampai ke atas bukit. Di tanjakan ini pula ban dalam Akbar hancur lebur dan parahnya sampai-sampai stopper ban belakang juga ikut hancur. Terpaksa darurat agar ban luar tidak slip dengan velg, kami ikat velg dan ban luar menggunakan webbing, yang ternyata cukup efektif. Selama perjalanan kami sempat bertemu sejumlah siswa dari sekolah JIS (Jakarta International School) beserta sejumlah local guide and porter. Nampaknya mereka berangkat dari Rawa Gede dan akan bermalam di Cisadon. Sewaktu kami hendak berangkat dari Cisadon, pemilik rumah sempat memberikan info kalo jam 7 pagi ada 5 motor yang  juga berangkat menuju Rawa Gede. And surprisingly, kami bisa menyusul grup tersebut walau denagn perbedaan waktu start sekitar 5 jam.

Singkat cerita ternyata kelima motor tersebut sebenernya tidak layak untuk offroad ke jalur seperti ini,wajar saja mereka dapat kami susul walaupun dengan perbedaan waktu start sekitar 5 jam. Satu hal yang mesti diacungin 4 jempol adalah nyali dan solidaritas mereka untuk bisa go this far! Setelah mengekor rombongan tersebut kurang lebih 30 menit, kami berinisiatif untuk “minta izin” mendahului mereka, maklum dengan sempitnya single track hampir tidak mungkin untuk bisa mendahului motor lain. Dengan alasan perjalanan masih untuk pulang ke Jakarta mereka pun bersedia “menggeser” motornya agar kami bisa lewat.

Antri tunggu giliran lewattt 

 Sungai yang kesekian kaliinyaa

Wih galaknya… 

Pompa gratis ditengah hutan. tp sayang bannya jebol  

Perhentian selanjutnya sebelum kami tiba di Rawa Gede kami masih harus melewati desa selanjutnya yang bernama Karang Tengah. Sesaat sebelum memasuki desa Karang Tengah landscape yang pada awalnya didonimasi hutan lebat berubah menjadi areal perkebunan kopi. Namun jangan salah meski telah memasuki areal perkebunan kopi jalur menurun menuju desa Karang Tengah masih cukup sulit. Masih dengan karakter tanah keramik, downhill menjadi tantangan tersendiri. Sering kali motor kami “terjun bebas”mengikuti curamnya jalur air diantara pohon kopi. Ditengah jalur banyak sekali persimpangan jalan yang kami sama sekali tidak tahu akan mengarah kemana. Lagi-lagi Japoo dengan instingnya memilih jalan ke kiri ke kanan dan ke tengah. Pada awalnya kami sempat ragu apakah kami sudah mengambil jalur yang benar atau tidak karena bukannya jalur semakin “mudah” tapi justru malah semakin sulit. Kami sempat harus menuntun motor ketika melewati “sungai gogle” (dinamakan gogle karena di sungai ini saya kehilangan gogle saya yang hilang terbawa arus sungai). Akhirnya setelah menuntun motor satu per satu melewati sungai tersebut akhirnya kami mulai bisa melihat lampu-lampu yang berada di rumah penduduk.

Akhirnya kami tiba juga di desa Karang Tengah sekitar jam 17.30. Ada satu sungai yang sangat menggoda untuk dinikmati namun sayang kami tiba disungai tersebut sudah terlalu sore sehingga bukan ide yang bagus untuk mandi mandi di sungai. Karena tidak satu pun dari kami yang tidak tahu seberapa jauh dari Karang Tengah ke Rawa Gede maka kami berhenti sejenak dan bertanya kepada beberapa warga setempat agar dapat memprediksi persedian bensin dan juga stock air minum. Setelah bermusyawarah akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Rawa Gede dan lagi lagi kami mesti melewati sungai dengan jembatan kayu ala kadarnya. Ketika melewati sungai ini KTM sempat terjun bebas ke sungai sedalam kuran lebih 2 meter.

Butuh waktu kurang lebih 20 menit bagi kami bertiga untuk menarik motor keluar dari sungai. Ketika melihat jam ternyata waktu menunjukkan pukul 18.30…ohhh pantesan! magrib-magrib masi maen motor sih. Akhirnya sambil menunggu magrib selesai kami istirahat sambil saya mengecek keadaan motor dan untungnya tidak ada kerusakan apapun. Perjalanan dilanjutkan masih melewati perkebunan kopi dan setelah ride selama 1 jam akhirnya kami berhasil keluar dari perkebunan kopi dan bisa melihat peradaban di kejauhan. Perjalanan langsung kami lanjutkan menuju jakarta untuk makan malam dengan seafood. In overall perjalanan ke Rawa Gede via Cisadon sungguh berkesan. Sangat menantang apalagi hanya kami bertiga dan tidak ada yang mengetahui track sehingga membuat segalana unexpected. 

Mudah-mudahn saya dan teman-teman bisa kembali lagi ke cisadon dan bisa membawa sedikit sumbangan kepada anak-anak yang tinggal di Cisadon. Salam Trail Adventure. 

Untuk cerita adventure lainnya please check out my web:  http://www.diaryformymother.com

Sisa-sisa perjuangan ban belakang Akbar

Tarik mangggg


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: