Trail Adventure Menuju Kasepuhan Ciptagelar

21 05 2011

Please enter this link (jefri’s blog) then click like to help my friend blog story for a chance to win adventure blogging contest

Kisah perjalanan selama 4 hari bersama pecinta offroad roda dua dari Jakarta menuju Ciptagelar. Perjalanan yang penuh kesan, pesan, dan kepuasan untuk memenuhi tuntutan jiwa ber-adventure ria!

Pada September 2010 saya dan teman-teman pecinta garuk tanah (offroad) roda dua berkesempatan untuk mengunjungi kediaman seorang tetua yang bernama Abah Ugi, tetua dari Kasepuhan Ciptagelar yang berlokasi di daerah Jawa Barat tepatnya di pegunungan Halimun-Salak antara perbatasan Bogor, Banten, dan Sukabumi. Mungkin nama Abah Ugi, atau mungkin lebih kenal dengan sebutan Abah Anom yang merupakan ayah dari Abah Ugi, sudah tidak asing lagi terutama bagi kawan-kawan backpacker yang suka main-main ke daerah Jawa Barat ataupun teman-teman yang tertarik dengan cultural experience ketika melakukan backpacking.

Cerita kali, ini saya tidak akan membicarakan lebih lanjut mengenai keunikan dari Kasepuhan Ciptagelar melainkan kisah petualangan bersama teman-teman pecinta olahraga offroad khususnya penggaruk tanah roda dua. Yah tapi sebelum saya lebih jauh membicarakan mengenai petualangan yang dialami 10 pengendara motor trail, yang kemudian berkurang menjadi 8 motor, mungkin ada baiknya saya akan mencoba memberikan ulasan singkat mengenai siapakah Abah Ugi dan apakah Kasepuhan Ciptagelar itu? Kenapa dengan susah payahnya kami berusaha mencapai tempat ini.

Kasepuhan Ciptagelar terletak di sudut perbukitan dari Taman Nasional Gede Pangrango yang  juga berbatasan dengan Kabupaten Pelabuhan Ratu, Banten, dan juga Bogor. Unik memang kampung yang kurang lebih seluas hanya 5 hektar ternyata dibagi menjadi 3 daerah administratif yang berbeda. Hmm saya penasaran bagaimana ribetnya urus KTP atau ketika saatnya pemilu? Mungkin sebagian besar masyarakat di luar Kasepuhan Ciptagelar mengenal tetua tempat ini sebagai Abah Anom. Mungkin hal ini disebabkan tetua kasepuhan sebelumnya yang bernama Abah Anom yang konon sedemikian terkenalnya karena karisma dan juga pemikirannya, mampu menjadikan Kasepuhan Ciptagelar sebagai salah satu kampung di daerah Jawa Barat yang dengan uniknya masih menganut cara-cara traditional dengan sedemikian kentalnya. Ketika kunjungan kami kesana September lalu, kami berkesempatan bertemu dengan Abah Ugi yang merupakan penerus dari Abah Anom. Jika dilihat dari umurnya Abah Ugi ini bisa dibilang tergolong cukup muda, mungkin sekitar 27 tahun, terutama jika dibandingkan antara peran dan tanggung jawab yang mesti diembannya. Dengan lebih dari ratusan kepala keluarga yang dipimpinnya, Abah Ugi seperti menjadi presiden di kasepuhan ini.

Konon katanya masyarakat yang tinggal di kasepuhan ini merupakan keturunan dari prabu siliwangi. Kini Abah Ugi merupakan tokoh sentral dalam kehidupan masyakarat kasepuhan ciptagelar dengan didamping Emak, Istri dari Abah Ugi yang sedemikian ayu-nya. Untuk mencapai desa Ciptagelar ini dapat ditempuh melalui pelabuhan ratu menuju arah Cisolok yang kemudian dilanjutkan melalui jalan berbatu atau makadam melalui desa Ciptarasa. Untuk melalui jalan ini pun dibutuhkan mobil dengan high ground clearance dan akan lebih baik jika menggunakan four wheel drive. Nah yang baru saya sebutkan itu merupakan jalur konvensional untuk mencapai ciptagelar, ada satu jalur lagi yang lebih “seru” untuk dilalui terutama bagi penggemar motor enduro.

Jalur ini merupakan jalan setapak yang sudah sejak lama digunakan para warga untuk “turun gunung” menuju desa Pemempeuk- Bogor. Jalan ini membelah lebatnya hutan Taman Nasional Halimun dan naik turunnya kontur pegunungan bisa dibilang jalan setapak ini sudah mirip seperti jalur-jalur pendakian yang biasa kita temui ketika kita mendaki gunung Salak, Gede ataupun gunung lainnya di Jawa Barat. Untuk jalan kaki saja, terutama di musim penghujan, jalur terbilang cukup sulit untuk dilalui dengan karakteristik tanah liat merah yang ketika terkena air hujan degan seketika akan menjadi tanah keramik atau arena seluncur bebas. Di kalangan teman-teman penggemar trail, jalur ini terkenal akan unsur kejutannya. Dengan stigma sebagai jalur yang dapat ditempuh hanya dengan waktu 3 jam (dengan catatan kondisi jalur, motor, dan juga rider) ataupun bisa dalam waktu 3 hari, jalur ini selalu siap menyambut offroader dengan kejutannya.

Berapa lama jarak tempuh sepenuh dipengaruhi oleh nasib, kerja sama tim, kondisi motor, ijin dari penunggu hutan setempat (hiii seremmmm!!!), dan yang paling penting doa restu orang tua, pacar ataupun istri. Ide untuk memilih jalur ini muncul melalui pembicaraan di tongkorang nasi uduk Bang Cucum yang terletak di daerah Fatmawati (jadi pengen makan semur jengkolnya Bang Cucum..ajibb!!!). Setelah berembuk sekian lama (maklum orang Indonesia kan kebanyak musyawarah haha) dan bolak balik pergantian personil boy band, eh personil enduro akhirnya kami berangkat menuju Bogor Rabu siang dengan Point Square Lebak Bulus sebagai rendevouz point.  Personal yang berangkat terdiri dari James, Ridwan, Reza Jappoo, Galih, Chandra Restu, Teddy, Joko, Ahmad, dan Rojali.  Dengan kebiasaan jam karet orang Indonesia yang semula rencana mau berangkat jam 7 pagi dari lebak bulus akhirnya terpaksa molor menjadi jam 10 pagi.

Setelah on road (ohh I hate on road!!) hampir 2 jam akhirnya jam makan siang kita sudah tiba di daerah perkebunan Cianten bogor dengan karakter jalan makadamnya. Alangkah senangnya kita semua ketika sudah dapat melihat areal perhutananan di sekitar desa Pamempeuk. Kita pun tidak lupa untuk memuaskan tangki motor yang kehausan dengan bensin premium di penjual bensin eceran. Seperti biasa tidak afdol rasanya main trail jika tidak “ngebanyol” atau saling “ejek” sesama rider lain selama perjalanan namun ternyata “be careful of what you wish for especially when you play with mother nature”. Satu hal yang unik adalah ketika warga setempat mendengar raungan motor-motor trail yang akan memasuki hutan Pemempeuk, sebagian warga akan segera stand by di awal-awal jalur lintasan menawarkan jasa tarik dan tentunya tidak gratis! Rata-rata mereka bisanya charge harga untuk jasa tarik atau joki per motor mulai dari 50 ribu sampai dengan 300 ribu. Semua tergantung kondisi trek hujan atau tidak, seberapa jauh mereka harus membantu, tipe motor yang kita gunakan, dan tentunya negotiation skill para rider haha.    Senengnya masuk jalur tanah menuju hutan gunung Halimun  Bebek trail warga setempat untuk membantu mencari kayu bakar etc..  Trek awal masih cukup terkendali untuk dipacu dengan high speed    Sudah pasti menggunakan joki ataupun jasa tarik motor merupakan gengsi terbesar seorang rider tapi khusus pada kesempatan ini ada kalanya seorang rider mesti dengan pahitnya menelan rasa gengsi. Trek awalnya masih kering sehingga kami pun masih bisa melaluinya tanpa halangan berarti bahkan saya pun sesekali masih bisa melalui dengan kecepatan tinggi, gaspol gan!! Entah karena ada yang belum mandi, atau ada yang buang air kecil sembarangan, atau karena doa dari warga setempat akhirnya setelah menempuh kurang dari ¼ trek hujan mulai turun dengan lebatnya. Hal ini membalik keadaan dari skor 1-1 untuk rider menjadi 5-1 untuk Halimun! Jalan dengan cepatnya berubah menjadi jalur air dan tanah liat pun berubah selicin keramik. Tanpa diduga, motor Rojali mengalami kerusakan yang cukup fatal. Akhirnya James dan Galih membuka bengkel dadakan di jalur Halimun pemempeuk tersebut. Setelah mencoba kutak katik selama lebih dari 2 jam tanpa membuahkan hasil akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di tengah-tengah lebatnya pengunungan Halimun.

Bekal kami pada waktu itu untuk bermalam di hutan hanya lah kebersamaan sesama rider (haha lebayyy!!!!) seperti kata Kaka dan Bim Bim makan ga makan asal kumpul! Untungnya masih ada warga setempat yang bertahan di sekitar jalur berharap kami menggunakan jasa mereka untuk bantuan darurat. Nampaknya mereka sudah tahu jika keadaan akan segera hujan, jadi mereka memutuskan untuk menunggu saja ketika para rider berjatuhan ketika mencoba melawan kekuatan alam! Kami memutuskan untuk bermalam tidak terlalu jauh dari sungai in case kami membutuhkan air akan mudah untuk menemukannya tetapi tidak terlalu dekat! Ingat aturan dasar survival?

Jangan bermalam terlalu dekat dengan sungai karena dua alasan sederhana : Banjir bandang di tengah malam dan juga sumber air minum bagi hewan-hewan! Tanpa bekal matras, makanan, dan air secukupnya kami terpaksa mendirikan base camp darurat.  Warga setempat atau Emang yang kami jumpai, kami minta untuk turun kembali ke desa terdekat untuk mencarikan kami air minum, makanan, dan juga pastinya rokok dan kopi! Dengan uang sekitar 300 ribu dan 4 jam kemudian, akhirnya mereka kembali dengan perbekalan logistik untuk membantu kami melawati malam pertama di hutan. Oia ini baru malem pertama loh! Ga nyangka kalo kita akan kena malem selanjutnya di hutan!

Tanda-tanda sulitnya jalur mulai muncul. 

Hujan euy. Bikin jalur tambah seru. I love it!

Detik-detik menjelang kematian motor Rojali

Grand opening bengkel James cabang “Halimun”

Final verdict! motornya Rojali tidak bisa diperbaiki. Rojali dengan ekspresi sedihnya.

Makan nasi bungkus ditengan dinginnya Halimun

Tetep semangat biar kotor2an.

Tetep happy. Ridwan bergaya ala turis Jepang. Cheesss

Kasihan banget nih tiga orang kyk anak hilang (RIdwan, Galih and Om Joko)

Masih tepar!

Siapakah ini?

Inilah villa kami ketika bermalam di gunung Halimun Keesokan paginya kami terbangun dengan perut masuk angin, badan menggigil, dan jari tangan dan kaki serba keriput karena terlalu lama berada di kelembapan. Bagi Rojali, dengan disayangkan dia harus turun gunung dikarena kerusakan motornya yang tidak mungkin untuk diperbaiki.

Dengan dikawal warga setempat, Rojali jalan meninggalkan kami semua dengan kepala tertunduk seperti seorang finalis Indonesia Idol yang dieliminasi. Bye Rojali, coba lagi tahun depan! Uppss kayak SPMB aja. Dengan semangat membabi buta babibu kami “pull the throttle all the way and push the adrenaline” tapi saying hal itu hanya bertahan selama beberapa menit saja. Lagi-lagi parahnya jalur tidak memungkinkan kami untuk memaksa motor melaju dengan cepat.

Dalamnya jalur air di tengah trek sangat menyulitkan untuk bisa melaluinya tanpa bantuan ditarik atau pun di dorong sesama rider ataupun bantuan Emang setempat. Belum lagi banyak pohon tumbang disepanjang jalan yang terkadang kami pun sempat berpikir jangan-jangan ada pohon yang sengaja di tumbangkan oleh warga setempat yang jahil dengan harapan akan menyulitkan rider sehingga mereka bisa mendapatkan “proyek” jasa tarik trail (hush jadi negatif gini pikirannya). Bahkan ketika saya di depan pun saya sempat nyaris tertimpa pohon besar yang tumbang, jika saya maju lebih cepat 1 menit saja sudah pasti mungkin sekarang saya ga bisa nulis kisah ini. Nyaris tertimpa pohon tumbang

Santai dulu sekalian tunggu bala bantuan.

Wuih gotong royong. bagus bagus!!

Awas jatuh!

Tuh kan bener jatuh juga!

Beda sungai, beda orang yang jatuh haha. Estimasi kami pada hari kedua sudah bisa tiba di tempat Abah sekitar jam 6 sore ternyata lagi-lagi alam berkata lain. Pada siang hari, hujan kembali mengguyur trek sehingga benar-benar menguras tenaga untuk bisa melalui trek dengan lancar.  Tapi sesuai prinsip “its not about the destination but its all about the journey” jadi kami tidak perduli berapa lama waktu dan tenaga yang akan kami butuhkan. “Just try to live the moment and not too worry about the rest”. “Trust your bike, trust your fellow riders and everything will be alright” (just like Bob Marley)!  Setelah melewati sungai, berbagai macam pohon tumbang , dalamnya cerukan jalur air, dinginnya baju basah, dan perut lapar akhirnya kami bisa melalui tanjakan terakhir, well at least sih begitu katanya.

Ternyata setelah melalui tanjakan tersebut masih ada lagi tanjakan terakhir, terakhir, dan terakhir. Karena cape “dibohongi” jalur, yang bisa kami lakukan hanya pasrah dan maju terus pantang mundur. AKhirnya sekitar jam 6 sore kami bisa melalui tanjakan terakhir, dimana awalnya target kami jam 6 sudah bisa sampai di tempat Abah dan menengguk segelas kopi tubruk panas.

Tetapi petualangan belum berakhir disana, jalan selanjutnya adalah turunan tajam dengan licinnya jalan keramik. Salah satu rider yang cukup kesulitan melalui trek ini adalah Bung Reza “Japoo” karena kedua rem depan dan belakangnya tidak bisa berfungsi jadi terpaksa meredam laju mesin menggunakan “engine break” dan teknik tingkat tinggi yaitu rem manual pakai kaki. Bahkan saya pun yang dengan kondisi rem masih bagus sering kali terhentak dari motor karena melaju free fall dan seringkali kerasa kalau “testis” suka “melejit” ihh seremmmmm!

Serem jurangnya euy!

Nyangkut lagi

Abis kesangkut sekarang tenggelem.

Akhirnya melewati tanjakan terakhir. From now on is long way down  Akhirnya sekitar jam 8 malem kami bisa keluar dari lebatnya hutan Halimun dan melewati areal perkebunan warga setempat.

Sebelumnya kami mesti melewati makan Abah Anom, makam keramat bagi warga kasepuhan, tapi sebelumnya kami masih harus menempuh tanjakan terakhir. Yupp masih ada tanjakan! Setelah semua rider berkumpul di makan Abah, dan tidak lupa “permisi” kepada Almarhum kami pun melanjutkan perjalanan menuju Imah gede atau juga disebut sebagai Rumah Besar. Hal yang membuat saya begitu takjub ialah keramahan dari warga kasepuhan Ciptagelar dan juga para “pegawai” yang berada di Imah Gede. Sesaat kami tiba di rumah Abah, keluar salah satu pembantu dari Abah dan tanpa basa-basi atau apapun mereka segera menyiapkan teh manis hangat dan beberapa cemilan. Setelah semuanya selesai bersih-bersih dan mandi, kami disuguhkan dengan salah satu hidangan makan malam terenak yang pernah saya makan.

Bayangkan setelah lebih dari 30 jam di dalam hutan dengan makan ala kadarnya, sekarang kami disuguhkan opor ayam, ikan mujair, sambal terasi, sayuran segar, kerupuk ikan,  dan tidak lupa pisang sebagai penutup. Pada malam itu sayangnya kami tidak bisa bertemu dengan Abah Ugi karena beliau masih sibuk mengurusi urusan kasepuhan tetapi kami sempat bertemu dengan Emang yang saya lupa namanya, salah satu “tangan kanan” dari Abah. Kami pun dengan asiknya bicara mulai dari masalah kasepuhan, taman nasional, hobby offroad, bahkan sampai masalah jodoh haha. Namun sayang karena kami semua begitu letih, semua tertidur pulas ketika Mang yang saya lupa namanya masih dengan semangatnya menjelaskan asal usul dari kasepuhan.

Keesokan harinya, kami bangun dengan badan serasa remuk, semua pergelan terasa mau terpisah, dan memar-memar hampir di setiap persendian. Kami sempat di undang untuk melihat dapur Imah gede yang merupakan semacam dapur umum yang selalu beroperasi hampir 24 jam non stop. Kami bertemu dengan Emak, istri dari Abah Ugi, dan jujur kami tidak pernah menyangka akan bisa melihat seorang wanita yang berasal dari desa yang begitu jauh dan “terpencil” namun penuh dengan karisma seorang ibu rumah tangga, kecantikan alami, dan ketulusan yang begitu murni.

Tanpa sadar kami semua pun terpesona dengan kualitas seorang Emak (ngeces ces cess..), istri dari Abah Ugi. Sebelum kami siap siap untuk melanjutkan perjalan menuju pelabuhan ratu dimana kemudian akan dilanjutkan dengan menyewa truk menuju Jakarta, Abah Ugi sempat meluangkan waktu untuk sejenak berkenalan dengan kami dan befoto ria. Tidak lupa kami pun memperoleh souvenir khas dari ciptagelar yaitu gelang dari tanaman yang langsung di anyam di tangan kita.

Ini menjadi salah satu cindremata dan juga “sertifikat” telah lulus  melalui jalur gunung Halimun. Jalur Pemempeuk – Ciptagelar memang tergolong jalur yang “sakit” terutama jika dimusim penghujan. Dibutuhkan kerja sama team, kondisi fisik dan mental yang prima, kondisi motor, dan juga doa restu ibu di rumah .

Ada dua dampak yang bisa ditimbulkan dari jalur ini: kapok atau ketagihan. Bagi saya pribadi, hmm bisa nebak mungkin apa dampaknya bagi saya. Dua minggu kemudian saya kembali lagi ke Halimun dengan team yang berbeda dan tentunya dengan kisah yang berbeda. Tunggu kisah selanjutnya.  Lihat juga kisah-kisah petualangan lainnya dan foto travel saya di www.diaryformymother.com

Souvenir dari Ciptagelar.

Suvenir selain gelang , kita juga dapat tattoo gratis.

Meninggalkan Cipatagelar

Memandang Pelabuhan Ratu

Siap-siap menuju Jakarta

Horayy

Dan kita pun tertidur pulas sampai Jakarta.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: